Koran Banjar– Upaya menjaga warisan budaya nusantara kini melangkah ke babak baru. Kesultanan Banjar bersama Universitas Insan Cita Indonesia (UICI) menggagas proyek digitalisasi museum sejarah dan budaya Banjar, sebuah inisiatif visioner yang bertujuan membawa nilai-nilai sejarah lokal ke dalam lanskap digital modern. Langkah bersejarah ini mendapat dukungan penuh dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, yang menilai proyek tersebut sebagai tonggak penting dalam pelestarian budaya nasional berbasis teknologi.
Dari Arsip ke Dunia Digital
Proyek ini diinisiasi langsung oleh Sultan Khairul Saleh Al Mu’tasimbillah, yang memandang pentingnya transformasi digital dalam menjaga kesinambungan nilai-nilai sejarah Kesultanan Banjar. Di bawah kepemimpinannya, upaya pelestarian budaya tidak lagi hanya berwujud kegiatan adat atau festival budaya, tetapi kini diperluas ke ruang digital yang dapat diakses lintas generasi dan lintas wilayah.
Turut mendampingi, Pangeran Dhia Hidayat, yang juga aktif mengawal setiap tahapan proyek digitalisasi, memastikan seluruh proses tetap berpijak pada nilai-nilai luhur budaya Banjar. Menurutnya, transformasi digital bukan berarti meninggalkan akar tradisi, melainkan memperluas jangkauannya agar tetap hidup di era digital.
Audiensi dan Dukungan dari Kementerian Kebudayaan
Dalam audiensi resmi bersama Menteri Kebudayaan Fadli Zon di Museum Nasional Indonesia, pihak Kesultanan Banjar dan UICI memaparkan rencana besar digitalisasi koleksi sejarah Banjar. Rencana itu mencakup artefak, manuskrip kuno, arsip foto, hingga dokumentasi situs-situs bersejarah yang selama ini tersimpan dalam ruang fisik museum.
Semua koleksi tersebut akan dikonversi ke format digital beresolusi tinggi, dilengkapi metadata, dan diintegrasikan dalam sistem daring interaktif yang dapat diakses publik. Platform ini diharapkan tidak hanya menjadi etalase sejarah, tetapi juga pusat edukasi dan riset kebudayaan yang terbuka bagi akademisi, pelajar, hingga masyarakat umum.
Kementerian Kebudayaan menyambut baik inisiatif ini. Menurut Menteri Fadli Zon, langkah digitalisasi bukan sekadar upaya mendokumentasikan benda budaya, tetapi juga strategi memperluas akses publik terhadap pengetahuan sejarah nasional.
“Digitalisasi memungkinkan kita menjaga ingatan kolektif bangsa sekaligus memperkuat identitas budaya Indonesia di tengah arus globalisasi,” ujarnya.
UICI Hadirkan Teknologi untuk Budaya
Baca Juga: PWRI Kabupaten Banjar Gelar Musda Teguhkan Peran Purna ASN
Dari sisi akademik, UICI berperan sebagai mitra teknologi dan riset. Rektor UICI, Prof. Dr. Laode Masihu Kamaluddin, menegaskan bahwa proyek ini merupakan model awal digitalisasi sejarah berbasis komunitas, yang nantinya akan diperluas ke berbagai kesultanan dan kerajaan lain di Indonesia.
“Kami memulai dari Kesultanan Banjar sebagai mitra pertama, namun visi kami jauh lebih luas — membangun jaringan nasional digital heritage yang menghubungkan warisan budaya dari berbagai wilayah nusantara,” ungkap Prof. Laode.
Menurutnya, digitalisasi budaya tidak hanya bertujuan melestarikan benda atau dokumen bersejarah, tetapi juga menghidupkan kembali semangat di baliknya melalui teknologi seperti virtual museum, augmented reality (AR), dan platform pembelajaran daring interaktif.
Kolaborasi yang Lahir dari Visi Bersama
Sebelumnya, Kesultanan Banjar dan UICI telah menjalin kerja sama dalam program beasiswa budaya dan penelitian sejarah. Proyek digitalisasi museum ini menjadi kelanjutan dari kolaborasi panjang mereka dalam menghadirkan inovasi di bidang pendidikan dan kebudayaan.
Staf Khusus Kesultanan Banjar, Ersa Fahriyanur, menegaskan bahwa inisiatif ini mencerminkan semangat sinergi antara tradisi dan inovasi.
“Kolaborasi ini menjadi momentum bersatunya dua semangat besar — Kesultanan Banjar yang berkomitmen melestarikan budaya sesuai perkembangan zaman, dan pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan yang berupaya memajukan kebudayaan nasional sesuai amanat undang-undang,” tuturnya.






