Aquaponik: Solusi Inovatif Warga Banjar Menuju Pertanian dan Perikanan Modern yang Berkelanjutan
Koran Banjar– Di tengah tantangan lahan pertanian yang semakin sempit dan tingginya permintaan akan pangan sehat, inovasi dalam bidang agrikultur menjadi sebuah keharusan. Menjawab kebutuhan ini, Program Griha Litera yang diinisiasi oleh PPK ORMAWA BEM FITK UNSIQ hadir kembali dengan sebuah terobosan. Kali ini, melalui Pelatihan Litera Palana (Perikanan) dengan tema “Aquaponik sebagai Solusi Pertanian dan Perikanan Modern,” para mahasiswa membawa pengetahuan terkini langsung ke jantung masyarakat Desa Banjar, Kecamatan Kertek.
Kegiatan yang berlangsung pada Kamis, 28 Agustus 2025, di Balai Desa Banjar ini bukan sekadar pelatihan biasa. Acara ini merupakan sebuah komitmen nyata untuk memberdayakan masyarakat, membuka wawasan, dan menanamkan benih-benih kemandirian desa. Dihadiri oleh sekitar 10-15 warga yang tergabung dalam kelompok Litera Palana, suasana terasa hangat dan penuh antusiasme.
Sambutan Hangat dan Harapan Besar dari Desa
Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Desa Banjar. Dalam sambutannya, beliau tidak hanya menyampaikan rasa terima kasih tetapi juga apresiasi yang mendalam kepada para mahasiswa UNSIQ.
“Kehadiran adik-adik mahasiswa ini sangat berarti bagi kami. Mereka tidak hanya datang dan pergi, tetapi benar-benar mendampingi, mendengar, dan membawa solusi yang sesuai dengan kebutuhan warga Desa Banjar,” ujarnya.
Narasumber yang dihadirkan adalah Ibu Kartini Sapta Widjijarti, seorang praktisi berpengalaman di Wonosobo yang mumpuni di bidang perikanan dan pertanian. Pemaparannya jelas, aplikatif, dan langsung menyentuh kebutuhan peserta.
Baca Juga: PW KBB Sumut Resmi Berkibar dengan Tagline “Bergerak Banjar Menjemput Dunia”
Keunggulan dan Tantangan: Perlu Kesabaran untuk Hasil yang Manis
Ibu Kartini tidak menutup-nutupi bahwa sistem aquaponik memiliki tantangan. “Pertumbuhan tanaman pada sistem aquaponik memang cenderung lebih lambat dibandingkan hidroponik murni, karena nutrisi yang diberikan tidak ‘disuntikkan’ langsung melainkan mengikuti siklus alami. Butuh kesabaran dan konsistensi dalam mengelolanya,” ujarnya jujur.
Pelatihan Litera Palana hari itu lebih dari sekadar penyuluhan. Ia adalah pemicu sebuah perubahan mindset. Dari melihat limbah sebagai masalah, menjadi melihatnya sebagai sumber daya. Dari memandang pertanian dan perikanan sebagai dua hal terpisah, menjadi menyatukannya dalam satu siklus yang harmonis.






