Skintific
Skintific
Skintific Skintific Skintific
Berita  

UT & Agung Sedayu Gelar ISSE 2026 Bahas Sinergi Ekonomi Syariah-SDGs

UT & Agung Sedayu
Skintific

UT & Agung Sedayu Gelar ISSE 2026: Sinergi Ekonomi Syariah dan SDGs untuk Pembangunan Berkelanjutan

Koran Banjar – UT & Agung Sedayu Universitas Terbuka (UT) bekerja sama dengan Agung Sedayu Group baru-baru ini menyelenggarakan acara bergengsi, International Syariah Summit and Expo (ISSE) 2026. Acara ini menjadi wadah bagi para akademisi, praktisi, dan pemangku kepentingan di sektor ekonomi untuk berdiskusi tentang potensi sinergi antara Ekonomi Syariah dan Sustainable Development Goals (SDGs)

Ekonomi Syariah: Potensi dan Relevansinya dalam SDGs

Ekonomi syariah yang mengedepankan prinsip-prinsip keadilan, transparansi, dan keseimbangan, semakin mendapat perhatian sebagai model alternatif untuk mendukung pencapaian SDGs. Dalam pembahasan ISSE 2026, para ahli ekonomi syariah menyoroti potensi sektor ini dalam mendukung berbagai tujuan SDGs, terutama terkait dengan pengurangan kemiskinan, peningkatan kesejahteraan sosial, dan keadilan ekonomi.

Skintific

Menurut Prof. Dr. H. M. Fahrudin, salah satu pembicara dalam acara ini yang juga merupakan pakar ekonomi syariah, “Ekonomi syariah berlandaskan pada prinsip-prinsip yang tidak hanya menjamin kesejahteraan ekonomi, tetapi juga berupaya mencapai keseimbangan sosial dan lingkungan. Hal ini sangat relevan dengan tujuan SDGs yang menekankan pembangunan berkelanjutan dan keadilan sosial.”

Beberapa aspek ekonomi syariah yang mendukung SDGs antara lain:

Inklusi Keuangan
Ekonomi syariah mendorong inklusi keuangan dengan mengedepankan sistem yang adil dan tidak eksploitatif, sehingga dapat membuka akses bagi masyarakat yang sebelumnya tidak terlayani oleh sistem keuangan konvensional. Produk-produk seperti pembiayaan mikro syariah dan perbankan syariah memberi ruang bagi sektor informal dan UMKM untuk berkembang.

Pemberdayaan Ekonomi Umat
Ekonomi syariah juga mendukung pemberdayaan ekonomi umat melalui zakat, infak, dan wakaf. Ketiga instrumen ini memiliki potensi besar dalam memperbaiki kesejahteraan sosial, mengurangi ketimpangan, dan membangun ekosistem ekonomi yang berkelanjutan.

Pembangunan Berkelanjutan
Dengan prinsip kehati-hatian dalam berinvestasi, ekonomi syariah cenderung lebih berorientasi pada sektor-sektor yang berkelanjutan dan ramah lingkungan, sesuai dengan prinsip-prinsip SDGs yang menekankan perlindungan lingkungan dan penggunaan sumber daya alam secara bijaksana.IES 2026, Pemkot Bogor Dukung Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan

Baca Juga: Pegawai PPPK di Bekasi Dibunuh Pria Baru Dikenal

ISSE 2026: Menjadi Wadah Kolaborasi dan Sinergi

Acara ISSE 2026 juga menekankan pentingnya kolaborasi antara berbagai pihak untuk mencapai tujuan SDGs melalui ekonomi syariah. Salah satu highlight dari acara ini adalah diskusi panel yang melibatkan berbagai stakeholder, mulai dari lembaga keuangan syariah, pemerintah, hingga perusahaan swasta seperti Agung Sedayu Group yang berfokus pada pembangunan berkelanjutan.

Menurut Direktur Utama Agung Sedayu Group, Ir. Sigit Prabowo, yang juga menjadi pembicara dalam acara ini, “Kami sebagai pengembang properti besar di Indonesia, melihat peluang besar untuk mengintegrasikan prinsip ekonomi syariah dalam setiap proyek yang kami jalankan. Salah satu contoh adalah pengembangan kawasan perumahan dan komersial berbasis syariah yang tidak hanya menguntungkan dari sisi ekonomi, tetapi juga memberikan dampak sosial yang positif bagi masyarakat sekitar

Skintific